Sebenarnya judul tulisan ini kayaknya sedikit mengada-ada dehh.
Mana ada guru les yang hidup sukses ? Di mana-mana juga yang namanya
guru les, apalagi mahasiswa, itu sebuah pekerjaan sampingan, paruh
waktu. Dan berdasarkan teori kewirausahaan (iih, apaan sih?), tidak ada seseorang yang sukses jika hanya melakoni sebuah pekerjaan di paruh waktunya. hahaha. Jadi, kalau mau bisnis, ya harus sepenuh waktu, bukan separuh.
Okey okey. Mari kita masuki topik yang akan saya tulis di
kesempatan kali ini. Menjadi guru les. Guru les yang saya maksud adalah
guru les privat. Pekerjaan ini banyak dlakoni para mahasiswa yang
berusaha hidup mandiri. Tapi, saya beberapa kali menemui kawan-kawan
saya yang justru desperado (kata ini artinya putus asa kan yah ?) saat terjun dalam dunia privat-privatan. Kok bisa yah, padahal khan enak lho bisa dapet uang sendiri. Tanya kenapa ?
Bagi seorang mahasiswa, saya contohnya, menjadi guru les privat itu
adalah pekerjaan pilihan yang, paling tidak, lebih baik daripada
pekerjaan yang mampu dilakukan seorang mahasiswa. Kenapa ? Karena
menjadi guru privat itu tidak terlalu menyita waktu, manajemen keuangan
sendiri (duitnya langsung ke kantong), melatih kemandirian, atau menjalin relasi kerja, atau mungkin mencari calon mertua. hahaha. (alasan yang terakhir ini patut dicoba).
Daripada saya harus jadi pelayan toko, operator warnet, pedagang kaki
lima yang butuh modal jutaan ? Lebih baik saya jadi guru privat. Modal
otak yang pas-pasan, pamflet hasil ketikan di Ms. Word
yang dipasang di jalanan, dan menyandang gelar sebagai mahasiswa
jurusan Fisika(calon bergelar S.Pd Fisika) ngarep.com di aminin aja deh (AMIN), Universitas Negeri Surabaya, itu sudah cukup buat
orang-orang di Surabaya percaya kemampuan saya mengajar les, dan akirnya
saya hanya tinggal menunggu panggilan ngajar. hahaha. Belum lagi, tarif
mengajarnya saya yang menentukan sendiri.
Namun, dengan segudang (lebay mode:ON) manfaat menjadi guru les sembari kuliah, terkadang seseorang yang melakoninya (saya lagi seneng
pake kata ini :-p) merasa jenuh, malas, dan merasa gagal menjadi guru
les privat yang baik dan sukses dalam karirnya. Baiklah, walaupun saya
juga bukan guru privat yang sukses (minimalnya untuk saat ini
), boleh donk yah saya berbagi tips agar kiranya seorang mahasiswa yang ingin dapet duit sendiri bisa bertahan dan menikmati pekerjaannya sebagai guru les privat.
Kalo menurut saya, yang pertama itu ya harus membulatkan tekad. Tujuan ente sok-sok mau ngajar privat entu apaan ? haha. Kalo cuma semata-mata mau nyari duit tambahan, mending cari kerjaan yang lain aja deh. Apalagi di Surabaya. UMR guru privat itu di bawah rata-rata (curcol
).
Menjadi guru privat bagi saya, bukan semata-mata mencari uang jajan
tambahan. Bukan itu. Uang gampang dicari, pengalaman tak dapat
terganti. Jadi, kalau jadi guru privat khan saya bisa kenal sama orang banyak, punya banyak relasi. Nanti kalau saya sudah lulus kuliah, saya gak perlu bingung-bingung mencari kerjaan, karena saya sudah banyak relasi. Relasi yang saya maksud itu yah para orang tua murid si anak yang saya ajar. Khan biasanya kalo yang ngelesin anak-anaknya secara privat ituumumnya berasal dari keluarga yang sudah mapan. hehehe. Sambil menyelam minum air. Betul begitu ?
Sehubungan dengan niat dan tekad, terkadang (atau bahkan seringkali)
seorang guru privat tidak bisa menjalin komunikasi yang positif dengan
para orang tua murid yang mempekerjakannya. Ingat bung, yang bayar kita itu orang tuanya, jadi ya kita wajib deket sama orang tuanya juga bukan cuma anaknya saja yang diakrabin.
Komunikasi dengan orang tua ini penting banget lho. Biar enak. Manfaat
komunikasi yang baik antara Anda dengan orang tua murid itu banyak
contohnya.
Simpel saja, misalnya ternyata secara tiba-tiba Anda berhalangan hadir untuk ngajar
seperti biasanya karena ada urusan mendadak. Kalau komunikasi Anda
dengan sang orang tua telah terjalin dengan baik, Anda cukup
menghubunginya lewat telepon, atau sms saja (jika ternyata pulsa Anda
tidak mencukupi.
) ) . Dan sang orang tua pun akan dengan lapang dada menerima alasan Anda, maksud saya, memaklumi.
Berbeda halnya jika Anda tidak menjalin komunikasi yang baik dengan
orang tua muridnya. Anda akan segan menghubunginya, dan si bapak/ si Ibu
juga akan berpikir bahwa Anda ingkar janji atau tidak professional,
atau dugaan-dugaan negatif lainnya. Kalau hal ini berlangsung dalam
waktu yang lama (beberapa kali pertemuan tanpa menghubungi), maka
tinggal tunggu saja tanggal di mana Anda akan kehilangan pekerjaan Anda
sebagai guru privat, yang akibatnya, penghasilan Anda akan berkurang.
Aduh. Sayang sekali, bukan ?
Saya pernah ngajar di rumah sebah keluarga yang orang tuanya sama sekali tidak berkomuniksi dengan saya. Paling-paling juga dulu, waktu pertama kali menemui saya dan menyatakan berminat mau ngelesin anaknya ke saya. Setelah itu, blass gak ada komunikasi. Saya juga males, orang tuanya gak pengertian. Ya sudah, saya akhiri saja hubungan kerja itu saat menginjak bulan ketiga.
Secara umum, jalinlah komunikasi yang baik dan intensif dengan orang
tua murid karena di tangannya lah honor kita dipegang, dan ditangannya
lah keputusan untuk terus mempekerjakan Anda sebagai guru privat anaknya
akan ditentukan. Buatlah mereka percaya bahwa Anda memang benar-benar
kompeten dalam mengajar, dan profesioanal. Kalau kepercayaan itu sudah
muncul, saya jamin, Anda akan dikontrak untuk enam tahun masa kerja
sebagai guru privat anaknya dengan honor mengajar yang bisa Anda naikkan
sesuka hati. wakakakakakakak.
Setelah sukses melunakkan hati calon mertua, haha, orang tua murid
maksudnya, maka tiba saatnya Anda untuk mengakrabkan diri dengan murid
les yang Anda akan ajar. Kalau saya, setiap kali saya mengajar, saya
berusaha tidak memposisikan diri saya sebagai gurunya, melainkan teman
belajarnya. Dari sini, akan muncul suasana yang cair antara Anda dan Si
anak. Bayangkan, apa gunanya susah susah dan mahal-mahal les sama Anda,
kalau suasana belajarnya sama dengan yang dia dapatkan di sekolah ? Mending gak usah les aja sekalian.
Kunci lain agar bisa akrab dengan murid les kita itu adalah sabar. Ingat, dia les sama Anda itu karena dia pengen pinter. Pengen pretasinya meningkat. Kalau sudah pinter dan jadi juara kelas mah gak
usah les juga udah bisa sendiri. Artinya, kemampuannya menangkap materi
yang kita sampaikan itu masihperlu ditingkatkan alias masih rada-rada bego. hahahaha. Jadi, kalau dia gak mudeng-mudeng dengan materi pelajaran, jangan Anda menyikapinya dengan tampang jutek atau mengernyitkan dahi. Sungguh jangan. Senyum saja, walaupun dalam hati dongkol setengah mati. Ulangi penjelasannya dari awal sekali, dan sesekali becandain si doi. Intinya lagi-lagi adalah mencairkan suasana dengan murid yang Anda ajar. Dia-nya mantep nangkep materi pelajaran, honor Anda pun jadi barakah (kenapa ujung-ujungnya ke honor lagi ? hahahaha).
Kalau sama murid itu harus lebih pengertian. Misalnya, dia baru
pulang dari sekolah satu jam sebelum les, setelah sebelumnya menjalani
aktivitas yang padat di sekolahnya, maka Anda dengan sangat baik hati
menanyakan keadaannya. dek, capek yah baru pulang sekolah ? Pertanyaan
ini bukan tanpa maksud, maksudnya adalah agar pertemuan kali itu tidak
memberatkannya (alias lebih singkat durasinya dari biasanya) dan Anda
pun tak perlu mengeluarkan energi untuk mengajar sengoyo biasanya. Dia-nya enak, Anda pun lebih enak (dapet honor tetep, ngajarnya lebih cepet
)
Kadangkala, banyak guru privat yang tidak sabaran. Melihat anak didiknya gak mudeng-mudeng diajarin trigonometri saja langsung cemberut. Gak sabaran.
Langsung sja nada bicaranya memojokkan. Sangat disayangkan. Jangan
sampai menjadikannya dalam posisi sebagai seorang anak yang bodoh. Itu
haram hukumnya.
Dua poin ini (menjalin hubungan yang baik dengan orang tua dan sang
anak) merupakan kunci utama agar pekerjaan Anda sebagai guru privat
berjalan lancar dan pada akhirnya anda akan menjadi sosok seorang guru
privat yang berpengalaman dan sukses.
Adapun masalah-masalah seperti membagi waktu dengan jadwal kuliah, jadwal belajar, itu sudah Anda pahami sendiri-sendiri. Udah pada gede khan ? hehehe. Selain itu, masalah-masalah lain kaya manajemen keuangannya gimana,
kemampuan orang pun berbeda-beda. Tidak bisa digeneralisasi dalm
tulisan ini. Lagipula, kalau saya beberkan tips-tips yang lain akan ada
beberapa kemungkinan :
1. Semua mahasiswa yang membaca posting ini akan beralih menajdi guru privat (yang artinya akan mengurangi lahan saya. hahahaha. becanda saja)
2. Poin-poinnya relatif sudah diketahui secara umum dan hanya butuh praktiknya saja.
3. Saya capek nulisnya, entar kepanjangan dan bikin Anda bosen mbacanya. hahaha.
Baiklah, itu saja masukan dari saya agar Anda bisa menajdi guru
privat yang sukses. Sukses di dunia (dapet honor dan pengalaman) dan
sukses di akhirat (dijodohkan dengan kakaknya anak didik Anda yang
shalihah).
. Bagi yang ingin mempraktikkan saran dan masukan saya ini, semoga
berhasil dan sukses. Dan bagi yang sudah lebih dahulu sukses sebagai
guruprivat, bisa juga menambahi tulisan saya dengan sesuatu yang lebih
baik.
Mari Menjadi Guru Les yang Sukses !



Tidak ada komentar:
Posting Komentar